Nama : 160213114
Nim : 160213114
Dosen Pembimbing: Zahra Nelisa, M.Ed
Pengembangan Kurikulum BK
1.
Pentingnya
mempelajari pengembangan kurikulum BK
Kurikulum merupakan
suatu perangkat atau program kerja yang diberikan kepada peserta didik dalam
mencapai tujuan yang diharapkan secara efektif, dimana kurikulum ini diberikan kepada
peserta didik dalam suatu perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang
diberikan oleh suatu lembaga pendidikan yayasan dan diimpementasikan ke sekolah sesuai dengan
kebutuhan siswa tersebut, penegmbangan kurikulum ini adalah istilah konprehensif
yang mana didalamnya mencakup, perencanaan, penerapan dan evaluasi.
Pentingnya mempelajari
pengembangan kurikulum Bk adalah agar seorang guru Bk dapat mengetahui proses
dan langkah apa saja yang akan dilakukan
dalam pengembangan kurikulum Bk, serta melihat kebutuhan siswa apa saja
yang diperlukan klien dalam mencapai tujuan bimbingan, dengan adanya
pengembangan kurikulum bk ini memudahkan konselor atau guru BK dalam membantu
klien untuk pencapain tujuan yang
diinginkan bagi klien atau peserta didik karena kurikulum itu ibarat panduan,
apabila panduan kita ada maka kita akan mudah dalam mencapai tujuan dan begitu
pula sebaliknya.
Ada dua pengembangan
kurikulum Bk yaitu
1.
Kurikulum Sebagai Program
Program dapat diartikan
sebagai suatu rencana, Hornby dan Parnwell (1972) mengartikan program sebagai
plan of what is to be done atau secara harfiah lebih sering disebut rencana
dari suatu yang dikerjakan. Ahli lain yaitu Bowers & Hatch (2002)
mengemukakan bahwa program is a coherent sequence of instruction based upon a
validated set of competencies.
Jadi dari pengertian program diatas
dapat disimpulkan bahwa program adalah suatu rencana yang disusun secara
sistematis dan terpadu sehingga memudahkan untuk hasilnya dapat diukur didalam
pelaksanaannya.
program bimbingan
bertuju bagi semua individu untuk membantu keberhasilan dalam bidang tertentu,
misalnya keberhasilan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki siswa. Program
ini bertujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh
keterampilan-keterampilan khusus untuk memcapai keberhasilan melalui kesempatan
belajar yang proaktif dan preventif.
2.
Langkah Pengembangan Kurikulum
Peters & Shetrezer
(1974) mengemukakan bahwa dalam mengembangkan kurikulum meliputi:
1.
Perencanaan (planning)
Perencanaan
merupakan bagian terpenting dalam pengembangan program dan meliputi semua
kegiatan yang akan mempergunakan sumber yang ada agar kegiatan bimbingan dapat
terlaksana sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Nurihsan (2005)
mengemukakan bahwa dengan merencanakan program secara matang maka akan dapat
memperoleh beberapa manfaat yaitu dengan adanya program pelaksanaan bimbingan
akan lebih terarah dan memudahkan konsleor dalam mengontrol dan mengevaluasi
egiatan-kegiatan yang dilakukan, serta terlaksananya program bimbingan secraa
efektif dan efisien.
2.
Membuat Keputusan (decision making)
Dalam membuat kegiatan,
maka terlebih dahulu kita harus menentukan keputusan secara seksama. Tujuannya
agar semua keputusan berimplementasi dengan hasil program yang dilaksanakan.
Oleh karena itu dalam membuat keputusan haruslah memperhatikan faktor irasional
yang muncul setelah menentukan tujuan yang akan dicapai dan perencanaan yang
telah dilakukan.
3.
Mengkoordinasikan (coordinating)
Kegiatan
koordinasi ialah kegiatan yang dilakukan secara bersama dalam satu unit kerja
agar memiliki kemampuan timwork yang solid sehingga keterlibatan orang-orang
dalam pengembangan program bimbingan menjadi lebih efektif.
4.
Mengarahkan (directing)
Mengarahkan berarti
kegiatan mengatur dan menata semua kegiatan program bimbingan yang ingin
dilaksakan dengan tujuan agar
pengembangan program bimbingan tersebut menjadi lebih teratur dan
efektivitas. Dalam kegiatan mengarahkan bukan hanya meliputi kegiatan
perencanaan dan pemanfaatan saja akan tetapi, dapat mempertimbangkan dengan
baik sumber daya yang digunakan dalam melakukan kegiatan tersebut.
5.
Mengembangkan (developing)
Developing
disini dapat diartikan sebagai sarana untuk menguji secara teliti tujuan
program yang telah dibuat dan dijaga kelangsungannya
6.
Evaluasi (evaluating)
Evaluasi yaitu kegiatan
mengukur hasil program yang telah dilaksanakan, serta dapat mengetahui sejauh
mana keberhasilan program yang telah disusun dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan
dimana keberhasilan tersebut dapat diukur ketercapaiannya dalam proses, hasil
jangka menengah dan hasil akhir.Dengan demikian kita dapat mengetahui bahwa
pengembangan kurikulum itu meliputi perencanaan, membuat keputusan,
mengkoordinasi, mengarahkan serta mengevalusai program pengembangan kurikulum
tersebut.
Jadi penting bagi
setiap pendidik untuk mempelajari setiap perubahan kurikulum yang ada karena
guru merupakan titik terpenting yang akan melaksanakan dan menerapkan kurikulum
tersebut dilapangan (kelas). Disini gurulah yang berperan penting dalam
keberhasilan proses belajar mengajar karena gurulah yang akan
mengimplementasikan kurikulum pada peserta didik. Begitu juga dalam bimbingan
dan konseling, konselor dituntut untuk mempelajari setiap pengembangan
kurikulum Bimbingan dan Konseling .
Adapun pentingnya
konselor atau guru BK mempelajari kurikulum BK yaitu sebagai berikut :
1. Dengan mempelajari kurikulum bimbingan
dan konseling, konselor dapat mengetahui
setiap metode-metode yang diterapkan dalam mengajar sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan para peserta didik.
2. Konselor juga dapat merencanakan kegiatan
yang akan dilakukan untuk menunjang keaktifan peserta didik berdasarkan
pengalaman yang dipusatkan kepada masalah-masalah agar peserta didik dapat
menyelesaikan permasalahannya. Hal ini menunjukan bahwa setiap individu atau
peserta didik mampu bekerja dan berkembang menurut kemampuan masing-masing.
Konselor juga dapat mengetahui dan
memperbaiki situasi belajar yang kurang kondusif dengan mengadakan evaluasi
terhadap perkembangan siswa dalam menyerap sejumlah pengetahuan yang telah
diberikan guru mata pelajaran.
3. Dengan mempelajari kurikulum BK, konselor
dapat mengimplementasikannya kedalam
suatu proram tahunan dan semesteran dengan melihat need assesment
peserta didik dan memberikan layanan untuk memenuhi kebutuan peserta didik yang
memilki beraneka ragam pengalaman dan perkembangan.
Jadi sangat penting bagi guru
bimbingan dan konseling atau konselor untuk mempelajari pengembangan kurikulum
BK karena untuk melaksanakan suatu program hanya konselor yang terpecaya dan
memiliki kompetensi pada bidangnya saja yang dapat melaksanakan program
tersebut.
Dengan mempelajari
pengembangan kurikulum BK kita dapat mengetahui bagaimana studi lapangan kurikulum yang
mencakup perencanaan kurirkulum, pelaksanaaan serta perbaikannya, dan kurikulum
itu menentukan kualitas pendidikan akan tetapi bagaimana usaha seorang guru
dalam mencapai kurikulum yang baik
2.
Ilmu
Yang Saya Dapatkan Tentang Pengembangan Kurikulum
Mungkin ilmu yang saya
dapatkan tentang pengembangan kurikulum belum seberapa yang mana saya baru
mengenal kurikulum dan bagaiman kerangkan dari pada kurikulum saat saya
mengambil mata kuliah pengembangan kurikulum. Dan saya pun masih dalam proses
belajar untuk bisa mendalami kurikulum yang sedang di terapakan ataupun bayangan pengembagan kurikulum yang akan berubah
nantinya mengikuti perubahab zaman.
Secara garis besar
perubahan kurikulum tentunya bertujuan untuk terus memperbaiki dan merevisi apa
yang menjadi kelemahan dari kurikulum sebelumnya sesuai dengan keutuhan dan
perkembangan zaman. seperti yang kita ketahui sejauh ini di indonesia telah
melakukan perubahan kurikulum sebanyak 4 x yaitu kurikulum 98, KBK, KTSP(2006),
dan kurikulum 2013 (K13). Dimana perubahan yang dilakukan sebenarnya adalah
agar pendidikan di Indonesia terus maju sesuai kebutuhan dan perkembangan ilmu
dan tekhnologi. Sejauh ini yang saya
ketahui kurikulum 2013 sangatlah bagus, karena dalam kurikulum tersebut
implementasinya sangat kompleks dan terinci untuk menentukan assessment apa
yang harus harus dilakukan dari awal kepada peserta didik, hanya saja memang
dibutuhkan kesiapan dari pendidik, sarana dan prasarana yang sangat mendukung
agar kurikulum 2013 dapat terimplementasi dengan baik di setiap jenjang
satuan pendidikan kurikulum 2013
menekankan siswa berpikir secara secara ilmiah yang memang sangat bersentuhan
langsung dalam kehidupan sehari-hari yang siswa memiliki tujuan akhir agar
setaip siwa itu memiliki pemahaman dan penalaran yang baik. Dan jujur semenjak
saya mempelajari kurikulum saya itu baru mengetahui kalau kita selama ini
berlajar itu berdasarkan apa yang sudah di tetapkan Karena awalnya saya kira
kurikulum itu tidak berganti-ganti. Dan dari disini saya juga bisa mengambil
pelajaran kalau guru itu memang benar-benar gk bisa sembarangan jadi guru, tap
dia harus mengerti dan memiliki wawasan yang luas.
Dan juga Ada
pihak-pihak yang terlibat dalam dan ikut berpartisipasi dalam proses pengembangan
kurikulum yaitu sebagai berikut :
1. Para administrator pendidikan, yaitu para
perancang yang terdapat dilingkungan Departemen Pendidikan Nasional yang
bertugas menyusun dasar-dasar hukum, kerangka kurikulum, tujuan yang ingin
dicapai dan standar kompetensi. Dimana mereka membuat rancangan berdasarkan
kebutuhan para peserta didik sehingga dapat diaplikasikan dan disebar luaskan
pada satuan pendidikan atau sekolah-sekolah.
2. Satuan pendidikan adalah jajaran
masyarakat yang ikut terllibat dalam menerapkan kurikulum guna tercapainnya
tujuan kurikulum dengan efektif.
3.
Deskripsi kurikulum di sekolah
Yang saya tahu bahwqa
sekolah-sekolah di Indonesia telah menerapkan berbagai kurikulum bahkan sampai
10 kali sampai sekarang. Diantaranya kurikulum KTSP ataupun kurikulum K13/
2013. Kurikulum KTSP adalah sebuah kurikulum operasional yang disusun dan
dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Sedangkan kurikulum 2013
adalah kurikulum yang berbasis akan karakter, kompetensi dan kemampuan yang
mewajibakan peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran. Dimana kutikulum
ini bertujuan untuk meningkatkan dan
mengembangkan pengetahuan peserta didik serta mempersonalisasikan nilai-nilai
karakter dan ahklak mulia seingga dapat diimplementasikan pada kehidupan
sehari-hari.
Dari observasi yang
telah saya lakukan disekitar tempat tinggal saya bahwasanya , banyak sekolah
yang lebih menerapkan kurikulum 2013 dibanding KTSP. Karena kurikulum 2013
lebih memperhatikan keaktifan peserta didik dalam proses belajar mengajar,
sehingga konselor atau guru BK dapat mengetahui perkembangan peserta didik.
Program pelayanan bimbingan dan konseling secara menyeluru harus memuat
pelayanan peminatan peserta didik, khususnya peminatan pada mata pelajaran, peminatan pendalaman materi
dan peminatan studi lanjutan. Dimana guru bimbingan konseling memilki tanggung
jawab untuk membantu peserta didik dalam memilih dan menerapkan peminatan pada
mata pelajaran sesuai dengan minat, bakat dan potensi yang dimilikinya. Inilah
yang menjadi pedoman para guru bimbingan dan konseling untuk membuat program
kerja dengan mengimplementasikan kurikulum 2013. Kurikulum ini juga sangat
efektif untuk mengetahui masalah-masalah yang terjadi pada perkembangan peserta
didik.
Sejauh ini, kurikulum
bimbingan konseling sendiri sudah terlaksanakan dengan baik dan sudah mencapai
standar pembelajaran. Namun seperti kita ketahui bersama bahwa kurangnya waktu
yang diberikan oleh sekolah maupun yayasan kepada guru bimbingan konseling
untuk memberikan layanan menjadi hambatan sendiri terlaksanakannya program yang
telah dirancang oleh guru bk itu sendiri, sehingga kurikulum BK hanya dijadikan sebagai bahan acuan atau program layanan namun tidak
diaplikasikan dan diterapkan dengan maksimal dengan alasan salah satunya
seperti masalah yang ada di atas dan mungkin juga ada beberapa pihak yang belum
mengenal apa itu BK sendiri sehingga Kurikulum BK tidak diberi kesempatan untuk
mengimplementasikannya pada peserta didik.
Sekolah : SMA MODAL BANGSA
Kelas : X
Mata
Pelajaran / Layanan : Bimbingan dan
Konseling
Semester : Ganjil/Genap
Standar
Kompetensi /
Tugas
Perkembangan
|
·
Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa Kepada TuhanYang Maha Esa.
·
Mencapai kematangan dalam hubungan
teman sebaya, serta kematangan dalam peranannya sebagai pria atau wanita.
·
Mencapai kematangan dalam pilihan
karir.
·
Mencapai kematangan gambaran dan sikap
tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, intelektual dan ekonomi.
·
Mencapai kematangan gambaran dan sikap
tentang kehidupan
·
berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara.
·
Mengembangkan kemampuan komunikasi
sosial dan intelektual, serta apresiasi seni.
·
Mencapai kematangan dalam sistem etika
dan nilai.
|
Kompetensi
Dasar
|
Siswa mampu mengetahui tentang menyontek, penyebab menyontek dan masalah-masalah yang
timbul akibat dari menyontek
|
Materi Layanan
|
Indikator /
Tujuan Layanan
|
Jenis Layanann
|
Bidang Bimbingan
|
Fungsi Layanan
|
Menyontek
|
Informasi
|
Belajar
|
- Pemahaman
- pencegahan
|
|
a.
Pengertian Menyontek
|
Memahami
pengertian menyontek itu sendiri
|
|||
b.
Faktor-faktor penyebab menyontek
|
Mengetahui apa-apa saja yang termasuk
didalam faktor penyebab menyontek
|
|||
c.
Dampak dari perbuatan menyontek
|
Mengerti apa saja yang terjadi setelah
menyontek
|
|||
d.
Cara mengatasi menyontek
|
Dapat mengetahui cara-cara agar dapat
berhenti melakukan perbuatan tersebut
|
Jadi dengan adanya
perkembabgan kurikulum BK di sekolah dapat memudahkan tahap kinerja guru BK
dalam mengatasi masalah yang dihadapi siswa baik dalam bidang
pribadi,sosial,belajar maupun karir.
4.
Landasan
Dalam Pengembang Kurikulum
Ada beberapa landasan
utama dalam pengembangan suatu kurikulum, yaitu:
1. Landasan
Fisiologis
2. Landasan
Psikologis
3. Landasan
Sosial Budaya
4. Landasan
Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (IPTEK)
5. Landasan
Organisatoris
Pada bagian ini akan dibahas secara
singkat landasan – landasan tersebut.
1.
Landasan Fisiologis
Pendidikan berintikan
interaksi antar manusia, terutama antar pendidik dan terdidik untuk mencapai
tujuan pendidikan. Di dalam interaksi tersebut terlibat isi yang diinteraksikan
serta bagaimana interaksi tersebut berlangsung. Apakah yang menjadi tujuan pendidikan,
siapa pendidik dan terdidik, apa isi pendidikan dan bagaimana proses interaksi
pendidikan tersebut merupakan pertanyaan – pertanyaan yang membutuhkan jawaban
yang mendasar, yang esensial, yaitu jawaban – jawaban filosofis.
Landasan filosofis merupakan
asumsi – asumsi tentang hakikat realitas, hakikat manusia, hakikat pengetahuan
dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak mengembangkan kurikulum. Asumsi –
asumsi filosofis tersebut berimplikasi pada perumusan tujuan pendidikan,
pengembangan isi atau materi pendidikan, penentuan strategi, serta pada peranan
peserta didik dan peranan pendidik.
Contohnya: landasan
filosofis pada pembuatan kurikulum yaitu melihat kebutuhan-kebutuhan yang
diperlukan peserta didik dan keadaan sekitarnya sehingga hal tersebut dapat
menjadi pedoman dan konsep dasar agar
peneliti dapat merancang dan membuat kurikulum berdasarkan apa yang dibutukan.
Selain itu, pembuatan kurikulum juga harus berpedoman pada teori-teori yang
berkaitan dengan kurikulum agar tercapainnya tujuan yang ingin dicapai. Di
Indonesia sendiri mempunyai landasan yang berorientasi kepada nilai-nilai
pancasila dan UUD 1945, seingga dalam pembuatan kurikulum juga arus menerapkan
nilai-nilai tersebut didalamnya.
2.
Landasan Psikologi
Landasan psikologis
merupakan aumsi – asumsi yang bersumber dari psikologi yang dijadikan titik
tolak dalam mengembangkan kurikulum. Ada dua jenis psikologi yang harus menjadi
acuan yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. psikologi
perkembangan mempelajari proses dan karakteristik perkembangan peserta didik
sebagai subjek pendidikan, sedangkan psikologi belajar mempelajari tingkah laku
peserta didik dalam situasi belajar.
Psikologi belajar mengetengahkan beberapa
teori belajar yang masing – masing menelaah proses mental dan intelektual
perbuatan belajar tersebut. Kurikulum yang dikembangkan hendaknya selaras
dengan proses belajar yang dilakukan oleh siswa. Ada tiga jenis teori belajar
yang mempunyai pengaruh besar dalam pengembangan kurikulum, yaitu teori belajar
kognitif, bahavioristik dan humanistik.
Contoh: perkembangan
pelajar dan proses dan hasil pembelajaran siswa, berkaitan dengan mental, serta tingkah laku
dalam berinteraksi si pelajar
\
3.
Landasan Sosial Budaya
Landasan sosial budaya
merupakan asumsi – asumsi yang bersumber dari sosiologi dan antropologi yang
dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Karakteristik sosial
budaya dimana peserta didik hidup berimplikasi pada program pendidikan yang
akan dikembangkan. Kebudayaan bukan
hanya berupa material belaka, melainkan juga berupa sikap mental, cara berpikir
dan kebiasaan hidup. Kebudayaan mencakup berbagai dimensi, diantaranya
keluarga, pendidikan, politik, ekonomi, sosial, teknologi, dan rekreasi. Semua
dimensi tersebut hendaknya dipertimbangkan dalam proses pengembangan kurikulum.
Contohnya:
Membuat aspek sikap
didalam pengembangan kurikulum, adanya menghormati guru,mental yang
kuat,sikapdan sopan santun dan yang lain-lain dan cara berpikir yang benar dan
kebiasaan hidup yang baik
4.
Landasan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi
(IPTEK)
Landasan ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan kurikulum merupakan asumsi –
asumsi yang bersumber dari hasil riset atau penelitian dan aplikasi dari ilmu
pengetahuan yang menjadi titik tolak dalam mengembangkan kurikulum.
Pengembangan kurikulum membutuhkan sumbangan dari berbagai kajian ilmiah dan
teknologi baik yang bersifat hardware maupun software sehingga pendidikan yang
dilaksanakan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Contohnya:bagaimana
sekolah bisa memenuhi berbagai sarana dan prasarana yang berbasis tekhnologi demi memunuhi proses belajar mengajar agar
lebih efektif dan efesien.sesuai dengan perkembangan zaman.
5.
Landasan organisatoris
yaitu merupaka asas
yang diberikan dalam membentuk bahan
pelajaran firdausfonsa98mahasiswaaktip.blogspot.co.id/2018/04/kurikulum-adalah-suatu-program.htmlfirdausfonsa98mahasiswaaktip.blogspot.co.id/2018/04/kurikulum-adalah-suatu-program.htmlang disusun untuk setiap jenjang, yang dilandaskan sesuai dengan
pengetahuan dan tahap-tahapan peserta didik, yang mana telah diatur oleh
pemerintah yaitu untuk jenjang sekolah dasar (SD), kemudian berkelanjutan ke
sekolah menengah pertama (SMP), kemudian sekolah menengah akhir (SMA), dan
dilanjutkan denagn bangku perkuliahan baik jenjang S1, S2, S3 yang mana semua
itu membutuhkan organisir yang teratur dan sistematis, karena setiap jenjang
itu miliki perbedaan baik secara fisik, mental, pengalaman dan kemampuan.
Contoh:
Dalam metode mengajar seorang guru tidak bisa menyamakan cara mengajar anak SD
dengan siswa yang duduk dibangku SMP,SMA,SMK karena akan terjadi kesulitan
dalam memahami materi yang disampaikan guru.
semoga bermamfaat
firdausfonsa98mahasiswaaktip.blogspot.co.id/2018/04/kurikulum-adalah-suatu-program.html
firdausfonsa98mahasiswaaktip.blogspot.co.id/2018/04/kurikulum-adalah-suatu-program.html